TANINDORIAU.COM
logo

Indonesia Surganya Kopi Dunia: Bisakah Riau Jadi Surganya Kopi Indonesia?

1. Tren Minum Kopi di Kalangan Tua dan Muda

Pada zaman now ini kebiasaan minum kopi sudah menjadi tren dan gaya hidup di kalangan masyarakat, baik di kalangan tua maupun muda. Hal ini bisa kita jumpai di kedai-kedai kopi tradisional maupun yang moderen seperti di kafe atau resto, minum kopi di tempat tersebut tidak memandang waktu, baik pada pagi hari hingga malam hari banyak dikunjungi oleh penggemar kopi.

Minum kopi di kedai atau kafe tidak hanya sekedar menikmati pahit atau manisnya kopi, akan tetapi bisa menjadi tempat berkumpulnya beragam orang, tidak memandang jabatan, status sosial, umur, suku, ras, ataupun agama. Di tempat ini dapat dijadikan sebagai wadah untuk mengekspresikan diri, menyampaikan pendapat, kritik, beradu argumen tentang kejadian-kejadian yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari, seperti persoalan politik, pemerintahan, perekonomian, proyek, atau tentang pemimpin negara atau daerah.

Di kalangan eksekutif minum kopi sudah menjadi gaya hidup, minum kopi sambil nongkrong, bawa laptop dan bawa smartphone, selain itu minum kopi bisa dijadikan sebagai wadah untuk membicarakan atau menjalankan aktivitas bisnisnya dengan para relasi bisnisnya. Sedangkan bagi politikus sambil menyeruput secangkir kopi, bisa dijadikan sebagai ajang untuk membicarakan kegiatan politik mereka.

Bagaimana dengan di Riau?. Kebiasaan minum kopi bagi masyarakat Riau bukanlah hal yang asing, mungkin kebiasaan minum kopi ini sudah dijadikan sebagai salah satu identitas budaya di negeri Melayu ini. Bila anda pernah mengunjungi beberapa kabupaten/kota di Riau, maka pada setiap pagi anda akan menjumpai penuh sesaknya kedai kopi oleh penggemar kopi. Mereka bertemu dan berbincang-bincang tentang apa saja sambil menikmati kopi yang terhidang.

Jadi kalau pada zaman now ini, anda mendengar istilah “Ngopi dulu, nanti semua urusan bisa kita bicarakan”, anda tidak perlu kaget, itu adalah sebuah ungkapan yang perlu anda pahami, bahwa melalui secangkir kopi dapat menyelesaikan urusan.

2. Indonesia Surganya Kopi Dunia

Pada saat dilaksanakannya pergelaran pameran Specialty Coffee Association of America (SCAA) pada tanggal 9-12 April 2015 di Seattle (Amerika Serikat), Indonesia mendapat julukan baru, yaitu sebagai “Surga Kopi Dunia”. Hal ini disebabkan banyaknya varian kopi spesial Indoensia memiliki citarasa yang khas dan tentunya sangat nikmat. Penilaian ini diberikan oleh komunitas kopi spesial di Amerika Serikat yang telah mencicipi 9 dari 39 varian kopi Indonesia. Negara-negara seperti Brasil dan Vietnam, boleh saja punya kuantitas kopi lebih besar ketimbang Indonesia. Akan tetapi, perihal rasa, kopi nusantara masih sulit untuk ditandingi.

Pada saat memperingati Hari Kopi Internasional yang jatuh setiap tanggal 1 Oktober, yang dirayakan oleh sekitar 77 negara di dunia yang tergabung dalam ICO (International Coffee Organization), termasuk Indonesia. Dibanding kopi dari negara lain di dunia, popularitas kopi Indonesia termasuk yang diminati dan dicari. Salah satu alasannya tak lain karena kopi Indonesia memiliki karakteristik dan citarasa yang khas.

Data Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) menyebutkan bahwa pada tahun 2016 produksi kopi Indonesia dalam satu tahun mencapai 600 ribu ton. Dengan komposisi kopi Robusta sebanyak 83 persen, dan 17 persen lainnya adalah jenis Arabika.

Beberapa nama kopi Indonesia yang sudah dikenal dunia internasional umumnya dari jenis Arabika. Seperti kopi Gayo dari Aceh, kopi Mandailing dari Sumatera Utara, kopi Jawa dari Jawa Timur,  dan kopi Toraja dari Sulawesi Selatan. Masing-masing varietas kopi tersebut memiliki aroma dan citarasa yang berbeda. Sedangkan jenis kopi lain yang sudah dikenal luar negeri, terutama di Malaysia dan Singapura adalah jenis Liberika yang berasal dari Riau.

Pada saat mengadakan acara ngopi bareng bersama puluhan barista, pengusaha kedai, hingga perwakilan petani kopi dalam rangka memperingati Hari Kopi Internasional yang jatuh pada setiap 1 Oktober, yang di dilaksanakan di Istana Bogor pada tanggal 1 Oktober 2017 lalu, Presiden Jokowi mendorong para pengusaha kedai kopi yang hadir untuk terus mengembangkan bisnisnya. Dia ingin semua pengusaha kopi tidak hanya menjual kopi yang masih berupa biji atau greenbean, akan tetapi harus dikembangkan menjadi minuman siap saji, karena hal ini jauh lebih menguntungkan.

Apalagi bila melihat perkembangan gerai-gerai kopi yang telah banyak digeluti oleh kalangan muda. Beliau mendorong para pengusaha kopi yang sebagian besar anak muda untuk terus melakukan inovasi dalam meracik minuman kopi, sehingga bisnis gerai kopi anak-anak muda ini mampu menyaingi gerai kopi yang sudah mendunia seperti starbuck coffee.

3. Bisakah Riau Jadi Surganya Kopi Indonesia

Bila melihat pasar kopi dunia maka Indonesia merupakan salah satu negara penguasa pasar kopi dunia, terutama jenis kopi Arabika. Walaupun negara penghasil kopi seperti Brasil dan Vietnam juga memiliki  Arabika, namun citarasa kopi Arabika asal Indonesia tak tergantikan. Hal ini diungkapkan oleh Ketua GAEKI (Gabungan Eksportir Kopi Indonesia), Moenardji Soedargo. Seperti dikutip dari Detik Finance (10/05/2017), lebih lanjut beliau menyatakan bahwa masalahnya Indonesia belum mampu memenuhi permintaan pasar tersebut karena dari sekitar 600 ribu ton produksi kopi Indonesia, hanya 100 ribu ton yang merupakan kopi Arabika.

Daerah penghasil kopi Arabika yang sudah dikenal luas di pasar kopi dunia berasal dari daerah pegunungan yang berhawa sejuk seperti Gayo, Toraja, Sidikalang, Mandailing, Kintamani, Flores, dan Wamena.

Permintaan terhadap jenis kopi asal Indonesia lainnya seperti Robusta dan Liberika juga cukup banyak, namun yang menjadi permasalahan adalah jumlah pasokan yang layak ekspor masih terbatas.

Menurut data statistik Direktorat Jenderal Perkebunan 2015-2017, pada tahun 2016 Indonesia memiliki areal kopi seluas 1.228.512 ha, 898.775 ha merupakan perkebunan kopi Robusta dan 319.678 ribu ha perkebunan kopi Arabika, sisanya dari jenis kopi Liberika dan Liberika. Produksi kopi Indonesia rata-rata per tahun sebanyak 685 ribu ton, 8,9% dari produksi kopi dunia dan volume ekspor kopi Indonesia pada tahun 2016 tercatat sebesar 267.058 ton atau senilai US$ 650.216.

Dengan tingginya permintaan kopi Indonesia di pangsa pasar dunia, maka pertanyaannya apakah Riau mampu bersaing untuk menembus dan mengambil bagian pasar kopi dunia? Jawabnya bisa!!!. Hal ini tentunya bukanlah omong kosong belaka.

Berdasarkan data ekspor kopi Indonesia selama ini terutama didominasi oleh jenis kopi Arabika dan sebagian kecil jenis kopi Robusta. Jenis kopi lain seperti Liberika tidak tercatat secara jelas dalam data ekspor kopi Indonesia, namun faktanya di lapangan ada, sebagai contoh kopi Liberika asal kabupaten Kepulauan Meranti telah banyak diekspor ke Malaysia dan Singapura.

4. Potensi Kopi Riau

Provinsi Riau memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup besar dan beragam mencakup sumberdaya lahan, hutan, air dan mineral. Sumberdaya alam ini merupakan modal utama dan fundamental untuk pelaksanaan aktivitas pembangunan yang secara umum bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat.

Pembangunan tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan  memiliki peran yang strategis dalam perekonomian Riau. Peran strategis tersebut digambarkan melalui kontribusi yang nyata melalui pembentukan modal; penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, pakan dan bioenergi; penyerap tenaga kerja; sumber devisa negara; sumber pendapatan; serta pelestarian lingkungan melalui praktek usahatani yang ramah lingkungan.

Berbagai peran strategis dimaksud sejalan dengan tujuan pembangunan perekonomian Riau yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Riau, mempercepat pertumbuhan ekonomi; mengurangi kemiskinan; menyediakan lapangan kerja, serta memelihara keseimbangan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

Dimana beberapa tahun terakhir ini pertumbuhan dan perkembangan sektor pertanian di Provinsi Riau berjalan dengan cukup pesat, hal ini bisa dilihat dari perkembangan Produk Domestik Bruto Daerah (PDRB) Provinsi Riau selama tahun 2012-2016 terus mengalami peningkatan. Bila dilihat dari sektor yang memberikan kontribusi terhadap PDRB, maka sektor Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan memberikan kontribusi sebesar 24,68%. Industri Pengolahan 28,92%, dan 22,65%.  

Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang dikembangkan di Provinsi Riau. Menurut pengelolaannya, perkebunan kopi yang ada di Provinsi Riau seluruhnya dikelola oleh rakyat. Komoditas kopi dibudidayakan di hampir seluruh kabupaten/kota Provinsi Riau kecuali di Kota Pekanbaru. Khusus untuk komoditas kopi di Kabupaten Kepulauan Meranti, masyarakat membudidayakan kopi jenis Liberika yang kemudian dikenal dengan kopi Liberika. Berdasarkan luasan areal dan produksinya, Provinsi Riau merupakan salah satu sentra produksi  kopi Liberika di  Indonesia,

Perkembangan luas areal kopi di Provinsi Riau memiliki tren yang negatif. Perkembangan luas areal kopi Tahun 2014-2017 disajikan pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2. diketahui bahwa perkembangan areal kopi Tahun 2014-2017 memiliki tren yang negatif. Pada Tahun 2014, areal kopi di Provinsi Riau adalah seluas 4.713 ha. Kabupaten yang areal kopinya paling luas adalah Kabupaten Kepulauan Meranti, Pelalawan, dan Indragiri Hilir dengan masing-masing luas areal  1.175 ha, 1.289 ha, dan 1.242 ha dari total areal kopi. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya mengalami penurunan. Perkembangan luas areal kopi tahun 2014-2017 menurut kabupaten/kota disajikan pada Tabel 2.

Tabel 1. Perkembangan Luas Areal Kopi di Riau (ha)

No.

Kab/Kota

Tahun

2014

2015

2016

2017

1

Kampar

17

16

14

14

2

Pelalawan

1.289

1.289

1.289

1.289,3

3

Rokan Hulu

187

180

180

0

4

Indragiri Hulu

348

348

348

348

5

Kuantan Singingi

13

13

13

13

6

Indragiri Hilir

1.242

1.233

1.213

1.213,4

7

Bengkalis

259

180

108

108

8

Rokan Hilir

17

19

19

18,8

9

Siak

140

139

112

112

10

Dumai

26

9

0

0

11

Pekanbaru

0

0

0

0

12

Kep. Meranti

1.175

1.215

1.215

1.215

Jumlah

4.713

4.641

4.512

4.332

 

Perkembangan produksi kopi Tahun 2014-2017 disajikan pada Tabel 3. Berdasarkan Tabel 3. diketahui bahwa perkembangan produksi kopi Tahun 2014-2017 memiliki tren yang positif. Pada Tahun 2014, produksi kopi di Provinsi Riau adalah sebesar 2.465 ton. Kabupaten yang memproduksi kopi paling besar adalah Kabupaten Kepulauan Meranti, Pelalawan, dan Indragiri Hilir dengan masing-masing produksi sebesar 1.281 ton, 213 ton, dan 693 ton dari total produksi kopi. Kemudian pada tahun 2015 dan 2016 terus menaik. Perkembangan produksi kopi tahun 2014-2017 menurut kabupaten/kota disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Perkembangan Produksi Kopi di Riau (ton)

No.

Kab/Kota

Tahun

2014

2015

2016

2017

1

Kampar

5

5

5

5

2

Pelalawan

693

692

654

654

3

Rokan Hulu

111

104

109

0

4

Indragiri Hulu

67

62

69

69

5

Kuantan Singingi

4

4

5

5

6

Indragiri Hilir

213

255

251

251

7

Bengkalis

6

21

19

19

8

Rokan Hilir

0

1

1

1

9

Siak

67

66

39

39

10

Dumai

18

2

0

0

11

Pekanbaru

0

0

0

0

12

Kep. Meranti

1.281

1.631

1.630

1.630

Jumlah

2.465

2.843

2.853

2.853


Luas areal perkebunan kopi selama 3 tahun mengalami penurunan, namun produksi terus mengalami kenaikan. Artinya dalam kurun waktu 3 tahun tersebut kenaikan produksi terjadi karena adanya kenaikan luas panen dan produktivitas sebagai akibat adanya introduksi teknologi.

5. Potensi Kopi Liberika Kabupaten Kepulauan Meranti

Selama ini masyarakat pecinta kopi tanah air kebanyakan hanya mengenal kopi Gayo, kopi Toraja, atau kopi Sidikalang. Semua jenis kopi yang disebutkan tadi merupakan kopi Arabika yang berasal dari dataran tinggi. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini mata mereka mulai terbuka, ternyata ada jenis kopi lain yang tak kalah nikmatnya dengan kopi tersebut, yaitu kopi Liberika asal Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Menurut cerita penikmat kopi yang pernah berkunjung ke Kepulauan Meranti dan merasakan nikmatnya kopi asal Pulau Rangsang, pada umumnya mereka mengatakan bahwa kopi ini sungguh sangat nikmat, punya sensasi tersendiri, aroma yang khas, dan citarasa yang berbeda dari jenis kopi lain yang pernah mereka nikmati. Diantara mereka ada juga yang mengatakan bahwa kopi ini memiliki ciri khas dan citarasa yang tidak telalu asam, seperti tanaman kopi yang tumbuh di dataran tinggi, sehingga aman bagi lambung karena tidak menaikkan asam lambung.

Selain aromanya yang khas dan rasanya yang nikmat, keunggulan kopi Liberika Kepulauan Meranti   adalah   berbuah   sepanjang   tahun, relatif tahan terhadap hama dan penyakit. Kopi Liberika ini mudah dibudidayakan, dapat tumbuh di lahan gambut dengan tingkat kesuburan yang rendah, dan bebas dari pengaruh pestisida dan pupuk kimia.

Kopi Liberika dari Kepulauan Meranti semakin terkenal, setelah dinyatakan sebagai hasil pertanian terbaik oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Nasional RI. Hal itu ditandai dengan diserahkannya sertifikat Indikator Geografis (IG) untuk kopi tersebut oleh Menteri Hukum dan HAM, Yasona Laoly, yang disaksikan Wakil Presiden Republik Indonesia,  M Yusuf Kalla di Istana Wakil Presiden Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta pada Senin 18 Juli 2016 kepada Bupati Kepulauan Meranti, Drs. Irwan Nasir, M.Si.

Menurut sejarahnya kopi Liberika berasal dari negara Liberia di Afrika Barat dan merupakan jenis kopi terbaik. Bahkan, lebih baik dari kopi jenis Robusta dan Arabika. Namun kopi yang ditanam ini bukan langsung didatangkan dari Afrika Barat, akan tetapi dibawa oleh para perantau asal Kepulauan Meranti dari negeri jiran Malaysia. Menurut penuturan pak Kim salah seorang pengusaha kopi di Kepulauan Meranti, konon tersebutlah nama Yasin, Yusuf, Kadir, dan Saleh yang berasal dari Pulau Rangsang pulang merantau dari Malaysia mereka membawa benih kopi yang rasanya sangat enak, untuk ditanam dan dikembangkan di Pulau Rangsang. Tak lama berselang tanaman ini telah bisa dipanen, biji kopi ini mereka olah dan ditawarkan kepada para kerabat serta tetangga untuk dicicipi, semuanya menyatakan enak. Dari cerita mulut ke mulut, tersebarlah berita di masyarakat sekitar bahwa ada kopi yang cocok ditanam di tanah mereka dan rasanya enak, lalu para penduduk setempat secara berangsur-angsur mulai menanam kopi tersebut. Namun pada saat itu mereka belum tahu jenis kopi yang mereka tanam, mereka hanya tahu bahwa itu kopi asal Malaysia. Pada akhirnya kopi ini menjadi salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Setelah lebih dari seperempat abad ditanam,  barulah mereka menyadari bahwa kopi yang ditanam adalah jenis Liberika, itupun setelah Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Bogor melakukan penelitian pada tahun 2010 tentang jenis kopi yang terdapat Kabupaten Kepulauan Meranti.

Di   pulau   Rangsang,   tanaman   kopi merupakan tanaman utama masyarakat di sepanjang jalan menuju Desa Bina Sempian, Rangsang Pesisir, Rangsang Barat dan   Kedabu   Rapat.  Hampir semua lahan masyarakat yang ada di semua desa tersebut ditanami kopi Liberika di bawah tegakan pohon kelapa dan pinang. Di daerah ini luas lahan kopi mencapai 1.000 hektar lebih. Kopi yang dihasilkan pun tidak tanggung-tanggung, yakni sekitar 5-10 ton per bulan.

Produktivitas tanaman kopi Liberika di Kepulauan Meranti masih rendah yaitu 629,94 kg  biji kopi kering/ha/tahun  atau  dibawah  rata- rata produktivitas nasional sebesar 792 kg biji kering/ha/tahun. Penyebabnya antara lain belum dilakukan pemeliharaan secara intensif. Namun produktivits ini masih ditingkatkan melalui pemeliharaan yang intensif dan penggunaan bibit dari klon unggul.

Di Kepulauan Meranti, kopi Liberika tidak hanya diterima di pasar lokal tetapi juga diekspor ke Malaysia dan dikenal dengan nama kopi Sempian. Di Malaysia, harga kopi Liberika cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan pasar lokal karena dianggap mempunyai citarasa dan aroma yang khas dan berbeda dengan kopi lain.   

6. Pemerintah Provinsi Riau Dorong Pengembangan Kopi Liberika

Pada saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kepulauan Meranti pada bulan Desember 2017 yang lalu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikulturan dan Perkebunan Provinsi Riau, Ir. H. Ferry HC Ernaputra M.Si., melihat langsung perkebunan kopi di Pulau Rangsang. Tepatnya di Desa Tanah Merah, Kecamatan Rangsang Pesisir.

Pada saat itu, Kepala Dinas ikut memanen dan mencicipi kopi yang disediakan oleh kelompok tani setempat. Beliau sangat antusias melihat luasnya kebun kopi Liberika di daerah ini, karena ini adalah potensi besar yang perlu dilestarikan dan dikembangkan, apalagi setelah menikmati langsung kopi yang dihidangkan, sambil tersenyum semringah, beliau berujar bahwa Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas TPHBun akan mendorong mengembangkan kopi Liberika di seluruh daerah yang potensi di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Pada saat berdialog dengan kelompok tani setempat, beliau juga semakin kagum ternyata banyak keunggulan-keunggulan kopi Liberika Kepulauan Meranti yang belum terekspos secara luas. Diantaranya industri pengolahan kopi di daerah ini sudah berdiri cukup lama dan sudah melakukan ekspor ke negeri jiran Malaysia, dalam setahun tidak kurang dari 70 ton kopi olahan asal Kepulauan Meranti diekspor ke Malaysia. Hal ini tentunya merupakan salah satu potensi ekonomi yang perlu dikembangkan, karena selaain mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat, juga mampu menampung lapangan kerja baru.

Di    Desa    Kedabu    Rapat telah ada 2  industri  rumah  tangga pengolahan kopi,     yaitu industri pengolahan kopi luwak Nur Jaya dan Insan Mandiri yang masing-masing mampu menampung tenaga kerja sebanyak 10-15 orang.

Selain menghasilkan bubuk kopi konvensional, industri ini juga menghasilkan kopi luwak, yang saat ini sedang digemari oleh penggemar kopi. Setiap anggota anggota kelompok memiliki musang antara 5-10 ekor. Saat musim panen, produksi kopi luwak Nur Jaya dapat menghasilkan serbuk kopi luwak sebanyak 150-200 kg/bulan yang dikemas ke dalam kemasan 100 g/bungkus dan dijual dengan harga Rp. 150.000/bungkus.

Sampai setakat ini, menurut para petani dan industri kopi mereka belum mengalami hambatan dalam pemasaran kopinya karena permintaan cukup tinggi, baik di pasar lokal mapun pasar ekspor.

Lebih lanjut Kepala Dinas, selain mendorong peningkatan produksi, kopi Liberika yang ada di Kepulauan Meranti harus mampu merebut pasar yang lebih lebih luas atau ekspor. Tentunya harus dilakukan penyempurnaan di segala aspek, seperti mutu, kemasan, dan promosi. Perkebunan kopi di sini, bila dikelola dan dikemas dengan baik bisa dijadikan salah satu destinasi agrowisata. Pengunjung selain bisa menikmati rindang dan sejuknya kebun kopi, juga bisa menikmati kuliner kopi Liberika Kepulauan Meranti. Sehingga pada suatu saat nanti, kopi Liberika asal Kepulauan Meranti akan lebih dikenal sebagai “Surganya Kopi Indonesia” atau “Primadona Baru Provinsi Riau di Sektor Perkebunan”, selain kelapa sawit, karet, kelapa, dan sagu.

Kepala Dinas selain memberikan dorongan, juga berjanji akan memberikan bantuan-bantuan pemerintah kepada kelompok tani atau industri yang memerlukan, tentunya sesuai dengan aturan serta kewenangan yang dimiliki oleh Dinas TPHBun Provinsi Riau. Kadis juga meminta kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tingkat provinsi terkait untuk mendukung pengembangan kopi Liberika di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Lebih lanjut Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Ria, Ir. Ferry HC Ernaputra, M.Si., sesuai dengan bidang tugas dan fungsi yang diembannya, beliau menyatakan siap mendukung pengembangan, memfasilitasi bantuan pemerintah, dan mempromosikan kopi Liberika Kabupaten Kepulauan Meranti, sehingga nantinya mampu meningkatkan produktivitas, produksi, mutu, pemasaran, dan pendapatan petani pada akhirnya.

Menurut Kadis TPHBUN Riau bahwa bantuan-bantuan yang telah dan akan diberikan kepada para petani kopi dianggarkan melalui dana APBN dan APBD Provinsi Riau. Bantuan yang diberikan berupa sarana produksi seperti bibit kopi untuk kegiatan peremajaan terhadap tanaman kopi yang sudah tua atau rusak. Pada tahun 2017 telah direalisasikan bantuan untuk pengembangan kopi sebanyak 200 ha, sedangkan pada tahun 2018 direncanakan sebanyak 400 ha.

Selain memberikan bantuan sarana produksi, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan juga akan melakukan kegiatan yang tidak kalah pentingnya, yaitu melakukan inventarisasi dan seleksi pohon induk. Hal ini dimaksudkan untuk melestarikan pohon-pohon induk unggulan yang sudah beradaptasi dengan baik sesuai lingkungan tumbuh di Kepulauan Meranti. Selanjutnya pohon induk unggulan ini akan dikembangkan di kebun benih khusus jenis kopi Liberika. Sehingga dikemudian hari akan dihasilkan benih atau bibit kopi Liberika unggulan asli Kepulauan Meranti yang dapat menyuplai kebutuhan petani. 

7. Penutup

Kopi Liberika asal Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki prospek ekonomi yang cerah untuk dikembangkan karena sudah dibudidayakan oleh masyarakat setempat, tidak sulit pemasarannya dan juga sudah mampu menembus pasar luar negeri (ekspor). Oleh karena itu, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau, sangat antusias mengembangkan kopi ini, baik dari sisi produksi, mutu, agrowisata, maupun untuk wisata kuliner sehingga akan lebih menggerakkan perekonomian masyarakat. Sehingga suatu saat, bisa menjadi “Surganya Kopi Indoensia” atau “Primadona Baru Provinsi Riau di Sektor Perkebunan”. Untuk itu, Gubernur berjanji akan terus melanjutkan bantuan untuk pengembangan kopi Liberika khususnya dan para petani pada umumnya.

 

 

Mon, 8 Apr 2019 @09:07


6 Komentar
image

Wed, 10 Apr 2019 @11:41

Nazaruddin Margolang

Selamat untuk Situs barunya, semoga bermanfaat

image

Wed, 10 Apr 2019 @11:43

Nazaruddin Margolang

Congratulation

image

Wed, 10 Apr 2019 @19:01

Harmet

Sukses selalu buat Tanindo Riau ðð»ðð»ðð»ðð»ðð»ðð»

image

Thu, 11 Apr 2019 @15:14

Melfianora

Sepertinya bisa

image

Sat, 13 Apr 2019 @10:49

Melfianora

Ayo di cek masterplan perkebunan

image

Sat, 13 Apr 2019 @14:36

Izal Sobari

Mau coba dong,,kopi RIAU nya pak.


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2019 TANINDO RIAU · All Rights Reserved